11 nov 2012
NEWSOUTHWALES - Sally, masih ingat betul siksaan fisik yang dialaminya, tersedar di atas sebuah sarang semut di satu tempat yang asing baginya dalam keadaan telanjang bulat, dan berlumuran darah. Dia baru saja diperkosa oleh seseorang yang dikenalnya di jalan dengan brutal.
Memori terakhirnya, adalah ketika pukulan mendarat di wajahnya yang diayunkan oleh seorang lelaki yang baru saja dia temui di pinggir jalan. Lelaki itu katanya, berdiri di pinggir jalan Kyle Street, Rutherford, 35km barat laut dari Newcastle, dan berusaha mencari tumpangan.
Dia terlihat mengalami masalah dengan keretanya, dan juga nampak seperti tengah menggendong bayi, kerana memegang selimut dalam pelukannya. Ketika itu jam menunjukan pukul lima pagi pada 22 Mei 2012 silam.
"Saya menepi dan keluar dari kereta dan mulai berjalan ke arahnya. Namun saya berhenti dan kembali untuk mengambil kunci kereta saya di dalam kereta. Lalu dia datang mendekati saya dan bertanya apakah dia boleh menggunakan telepon saya. Ketika saya menyerahkan telepon kepadanya, salah satu tangannya menjulur ke arah saya, dan selimut itu jatuh dari pelukannya, dan tidak ada bayi di dalam sana, dan saat itu saya menyedari saya sedang berada dalam kesulitan," ujarnya, seperti dilansir oleh Sydney Morning Herald, Jumaat (9/11/2012).
"Dia kemudian memukul saya di wajah. Itu saja yang saya ingat hingga saya tersedar di atas sebuah sarang semut hijau, dalam keadaan telanjang dan berlumuran darah," lanjutnya.
Memori terakhirnya, adalah ketika pukulan mendarat di wajahnya yang diayunkan oleh seorang lelaki yang baru saja dia temui di pinggir jalan. Lelaki itu katanya, berdiri di pinggir jalan Kyle Street, Rutherford, 35km barat laut dari Newcastle, dan berusaha mencari tumpangan.
Dia terlihat mengalami masalah dengan keretanya, dan juga nampak seperti tengah menggendong bayi, kerana memegang selimut dalam pelukannya. Ketika itu jam menunjukan pukul lima pagi pada 22 Mei 2012 silam.
"Saya menepi dan keluar dari kereta dan mulai berjalan ke arahnya. Namun saya berhenti dan kembali untuk mengambil kunci kereta saya di dalam kereta. Lalu dia datang mendekati saya dan bertanya apakah dia boleh menggunakan telepon saya. Ketika saya menyerahkan telepon kepadanya, salah satu tangannya menjulur ke arah saya, dan selimut itu jatuh dari pelukannya, dan tidak ada bayi di dalam sana, dan saat itu saya menyedari saya sedang berada dalam kesulitan," ujarnya, seperti dilansir oleh Sydney Morning Herald, Jumaat (9/11/2012).
"Dia kemudian memukul saya di wajah. Itu saja yang saya ingat hingga saya tersedar di atas sebuah sarang semut hijau, dalam keadaan telanjang dan berlumuran darah," lanjutnya.
Sally, bukan nama sebenarnya, merupakan warga Vacy, dia membahagikan kisah ini, dua minggu sebelum Hari Pita Putih pada tanggal 24 November. "Saya ingin membuat orang berfikir dua kali untuk berhenti dan membantu orang asing, saya ingin memastikan tidak ada orang lain mengalami nasib serupa seperti yang saya alami," katanya.
Ketika dia tersedar, Sally dapat melihat bahawa seluruh pakaiannya bertebaran di sisinya, sementara keretanya terpakir di sampingnya, dalam keadaan seluruh pintunya terbuka, dengan lampu interior dimatikan.
"Saya merangkak ke arah kereta, dan menemukan telepon saya. Saya mengunci diri di dalam kereta dan menelepon 000," tuturnya.
Sally meyakini penyerangnya lebih dari satu orang, kerana serangan itu nilainya sangatlah rapih. "Secara fisik tidak mungkin seseorang dapat mengangkat saya, terutama ketika saya tak sedarkan diri, kerana saya akan menjadi berat mati," ucapnya.
"Saya merangkak ke arah kereta, dan menemukan telepon saya. Saya mengunci diri di dalam kereta dan menelepon 000," tuturnya.
Sally meyakini penyerangnya lebih dari satu orang, kerana serangan itu nilainya sangatlah rapih. "Secara fisik tidak mungkin seseorang dapat mengangkat saya, terutama ketika saya tak sedarkan diri, kerana saya akan menjadi berat mati," ucapnya.
Ketika ambulans dan petugas polis tiba untuk menolongnya, Sally sempat merasa ragu untuk membuka pintu kereta. "Mereka mengetuk jendela dan berkata mereka ada untuk membantu saya, saya sangat takut dan meminta mereka menunjukkan lencana mereka sebelum aku membuka pintu. Petugas ambulans lalu memberi saya selimut, dan itu merupakan selimut rumah sakit, sehingga saya membiarkan mereka membantu saya," paparnya.
Saat itu Sally mengaku sangat ingin menelepon suaminya, namun dia ragu kerana tidak boleh menemukan kata-kata yang tepat untuk menceritakan apa yang telah terjadi.
"Saya mengalami mimpi buruk dan menderita depresi dan saya bermimpi banyak hal dan saya tidak tahu apakah itu. Apa yang terjadi," katanya.
Akibat serangan itu, secara fisik Sally menderita patah hidung dan retak di rongga matanya, serta luka di organ kewanitaanya. Dia juga menerima pukulan ke depan dan belakang kepalanya.
Ia menghabiskan 20 minggu di rumah sakit untuk mengubati luka-lukanya, termasuk menjalani operasi usus besar dan tiga operasi kandung kemih.
"Saya berakhir dengan infeksi saluran kemih, para doktor ingin melakukan catheterise terhadap saya selama dua tahun, namun saya tidak ingin melakukan itu," paparnya.
Sally seharusnya juga menjalani operasi pada vaginanya, namun ia tidak ingin menjalani operasi lainnya. "Ini terlalu menyakitkan secara fisik, saya ingin berhenti di situ," bebernya.
Sementara pelaku teridentifikasi berusia sekitar 30 hingga 40 tahun, bertubuh kurus, rambut cokelat, tato dan mengenakan kacamata hitam dengan bingkai tebal. TRIBUNNEWS.COM
Ia menghabiskan 20 minggu di rumah sakit untuk mengubati luka-lukanya, termasuk menjalani operasi usus besar dan tiga operasi kandung kemih.
"Saya berakhir dengan infeksi saluran kemih, para doktor ingin melakukan catheterise terhadap saya selama dua tahun, namun saya tidak ingin melakukan itu," paparnya.
Sally seharusnya juga menjalani operasi pada vaginanya, namun ia tidak ingin menjalani operasi lainnya. "Ini terlalu menyakitkan secara fisik, saya ingin berhenti di situ," bebernya.
Sementara pelaku teridentifikasi berusia sekitar 30 hingga 40 tahun, bertubuh kurus, rambut cokelat, tato dan mengenakan kacamata hitam dengan bingkai tebal. TRIBUNNEWS.COM
0 komentar:
Posting Komentar